Kamis, 20 Agustus 2009

AL-MUSTADRAK ’ALA AL-SAHIHAIN AL-HAKIM


Studi Kitab Hadits

AL-MUSTADRAK ’ALA AL-SAHIHAIN AL-HAKIM

1. BIOGRAFI SINGKAT AL-HAKIM

Nama imam al-hakim adalah Abu Abdillah Al-hakim Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Na’im bin Al-hakam Adh-dhabbi Ath-Athahmani An-Nasaiburi Al-Hafidz yang terkenal dengan sebutan Ibnu Bayyi’. Dia lahir pada hari, tanggal 3 bulan Rabiul Awal tahun 321 Hijriyah.

Abu Abdillah Al-hakim menuntut ilmu semenjak masih kecil melalui berkat bimbingan dan arahan ayah serta paman dari ibunya. Adapun pertama kali dia mendengarkan hadits tahun 330 Hijriyah ketika baru berumur tujuh tahun. Dia mendapatkan hadits secara imla’ dari Abu Hatim Ibnu Hibban pada tahun 334 Hijriyah.

Setelah itu, Abu Abdillah Al-hakim melakukan perjalanan mencari ilmu dari Naisaburi ke Irak pada tahun 341 Hijriyah. Kemudian dia melakukan ibadah haji dan selanjutnya meneruskan perjalanannya mencari ilmu kenegeri Khurasan, daerah ma wara’an an-nahri dan lainnya. Adapun para guru Abu Abdillah Al-hakim di naisaburi sendiri jumlahnya mencapai 1000 syaikh. Sedangkan guru-guru yang diperoleh selain dari naisaburi pun kurang lebih 1000 syaikh.

Abu Abdillah Al-hakim pernah dua kali melakukan perjalanan mencari ilmu ke Irak dan Hijaz. Perjalanan mencari ilmu yang kedua ini dilaksanakan pada tahun 338 Hijriyah. Adz-Dzahabi berkata, “Abu Abdillah Al-hakim mendapakan sanad hadits yang ‘ali di Khurasan, Irak dan daerah ma wara’an an-nahri. Dia melakukan perjalanannya mencari ilmu ke Irak sewaktu berusia dua puluh tahun.

2. GURU DAN MURID-MURIDNYA

Guru-guru Abu Abdillah Al-hakim adalah: Ayahnya sendiri, Muhammad bin ali bin Umar Al-Mudzakkar, abu Al-Abbas al-asham, Abu Ja’far Muhammad bin Shalehbin Hani’, Muhammad bin Abdullah Ash-Shafar, Abu Abdillah Ibnu akhram, Abu Al-Abba Ibnu Mahbub, Abu Hamid Hasnawiyah, Al-Hasan bin Ya’kub Al-Bukhari.

Juga, Abu An-Nadhar bin Muhammad bin Muhammad bin Yusuf, Abu Al-Walid Hasan bin Muhammad, Abu Amr Ibnu As-Samak, Abu Bakar An-Najar, Abu Muhammad Ibnu Darastawiayah, Abu Sahal bin Ziyad, Abdurrahman bin Hamdan Al-Jallab, Ali bin Muhammad bin Uqbah Asy-Syaibani dan abu ali Al-Hafizh. Abu Abdillah Al-hakim senantisa mau belajar dari orang lain meskipun itu dari sahabatnya sendiri.

Sedangkan para murid Abu Abdillah Al-hakim adalah: Ad-Daruqthni, Abu Al-Fath bin Abu Fawaris, Abul Ala’ Al-Wasithi, Muhammad bin ahmad bin Ya’qub, Abu Dzar Al-Harawi, Abu Ya’la Al-Khalili, Abu Bakar Al-Baihaqi, Abu Al-Qasim Al-Qusairi, Abu Shaleh Al-Muadzin, Az-Zaki Abdul Hamid Al-buhari, Utsman Bin Muhammad Al-Mahmahi, Abu Bakar Ahmad bin Ali Bin Khalaf Asy-Syairazi dan masih banyak yang lainnya. Abu Abdillah Al-hakim belajar ilmu qira’at dari Ibnul Imam, Muhammad bin Abu Manshur Ash-Sharam, Abu Abu Ali bin An-Naqqar Al-Kuffi dan Abu Isa Bakkar Al-Baghdadi. Dan, dia belajar tengtang madzhab dari Ibnu Abi Hurairah, Abu SahalAsh-Shu’luki dan Abu Al-Walid Hisan Bin Muhammad. Al-Hakim sering berdiskusi dengan Al-Ja’labi, Ad-Daruquthni dan yang lain.

Sesuatu yang membuatku paling kagum adalah setelah melihat bahwa Abu Umar Adh-Dhalmanki telah menulis karya disiplin Ilmu Hadits dari Imam Abu Abdillah Al-hakim. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 339 Hijriyah dimana Abu Umar Adh-Dhalmanki menulis karya Ilmu Hadits tersebut dari seorang syaikh dari Abu Abdillah Al-hakim.

3. KARYA-KARYA AL-HAKIM

Abu Hazim Umar bin Ahmad Al-Abduwi Al-Hafizh berkata, “aku telah mendengar Abu Abdillah Al-hakim, seorang imam ahli hadits pada masanya, berkata, “aku telah minum air zamzam dengan memohon kepada Allah agar aku diberi anugrah karya yang bagus”. Abu Thahir berkata, “akau telah bertanya kepada Sa’ad bin Ali Al-Hafizh tentang empat ulama yang hidupnya satu masa. Pertayaanku adalah, “dari keempatnya, siapakah yang paling hafizh?” lalu, Sa’ad bin Ali bertanya tentang sipakah empat ulama yang kau maksudkan.

Setelah aku jelaskan bahwa mereka adalah Ad-Daruquthni, Abdul Ghani, Ibnu Mandah dan Al-Hakim, akhirnya Sa’ad bin Ali menjawab seputar mereka dengan, “Ad-Daruquthni adalah orang yang paling tahu tentang illat-illat hadits, Abdul Ghani Adalah orang yang paling mengerti tentang sejarah manusia, Ibnu Mandah adalah orang yang paling banyak memiliki hadits berikut makrifat yang sempurna, dan Al-Hakim adalah orang yang paling bagus dalam berkarya diantara mereka berempat.”

Adz-Dzahabi berkata, “Al-Hakim telah memulai menuangkan ilmunya dalam bentuk karya kitab pada tahun 337 Hijriyah. Jumlah karya Abu Abdillah Al-Hakim mencapai sekitar 1000 (seribu) juz yang terdiri dari tahkrij Ash-Shahihain, Al-Illal, At-Tarajum, Al-Abwab dan Aku-Syuyukh”.

Disamping itu, Abu Abdillah Al-Hakim juga menulis kitab Ma’rifah ‘Ulum Al-Hadits, Mustadrak Al-Hakim, Tarikh An-Naisaburiyin, Muzaka Al-Akhbar, Al-Madkhal ila Al-‘Ilmi Ash-Shahih, Al-Iklil, Fadha’il Asy-Syafi’I dan selainnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa karya Abu Abdillah Al-Hakim yang paling terkenal adalah kitab Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain. Kitab ini telah dicetak menjadi empat jilid berikut catatan pinggir ringkasan Imam Adz-Dzahabi.

4. KITAB AL-MUSTADRAK ’ALA AL-SAHIHAIN AL-HAKIM

4.1. Latar Belakang Penyusunan

Al-Hakim tidak menyebutkan secara eksplisit tentang latar belakang penyusunan kitab Al-Mustadrak ‘ala Ash-Sahihain, yang mulai disusun pada tahun 373 H (52 tahun). Namun secara implisit dapat direkam, bahwa inisiatif penulisan tersebut berangkat dari faktor internal, yakni asumsi al-hakim bahwa masih banyak hadis shahih yang berserakan, baik yang belum dicatat oleh para ulama, maupun yang sudah tercantum dalam beberapa kitab hadis yang ada. Disamping penegasan Sahihain, Bukhari dan Muslim yang menyatakan bahwa tidak semua hadis shahih telah terangkum dalam kitab sahihnya. Dua hal tersebut mendorong al-hakim menyusun kitabnya berdasarkan kaedah-kaedah ilmiah dalam menentukan keabsahan sanad dan matan.

4.2. Penamaan Kitab

Kitab tulisan al-hakim dinamakan al-mustadrak artinya ditambahkan atau disusulkan atas al-Sahihain. Al-Hakim menamakan demikian karena berasumsi bahwa hadis-hadis yang disusun dalam kitabnya merupakan hadis-hadis shahih atau memenuhi syarat keshahihan Bukhari dan Muslim, dan belum tercantum dalam Sahih Bukhari maupun Sahih Muslim.

Dengan demikian kandungan hadis dalam al-Mustadrak memiliki beberapa kemungkinan [1]:

a. Hadis-hadis tersebut tidak terdapat dalam Sahihain, baik secara lafal maupun makna, namun terdapat dalam kitab lain.

b. Hadis-hadis tersebut terdapat dalam Sahihain, tetapi dengan lafal yang berbeda meskipun maknanya sama.

Sebagai contoh : dalam Sahih Muslim : ”Janganlah seorang perempuan mengadakan perjalanan, melainkan bersama muhrimnya”. Dalam al-Mustadrak dengan makna yang sama menyebutkan : ”Janganlah seorang perempuan mengadakan perjalanan yang memerlukan waktu satu malam, melainkan bersama muhrimnya”

c. Hadis-hadis tersebut melengkapi lafal hadis yang terdapat dalam Sahihain, seperti hadis tentang perintah mandi pada waktu hendak menunaikan shalat Jum’at, meskipun dengan makna yang sama ada penambahan keterangan yang cukup rinci dan signifikan tentang latar belakang mengapa Nabi memerintahkan untuk mandi pada hari Jum’at.

d. Hadis-hadis tersebut terdapat dalam Sahihain, tetapi al-Hakim menggunakan sanad yang berbeda.

4.3. Isi Kitab

Kitab ini tersusun dalam 4 jilid besar yang bermuatan 8.690 hadis dan mencakup 50 bahasan (kitab). Kitab karya al-Hakim ini termasuk kategori kitab al-Jami’, karena muatan hasilnya terdiri dari berbagai dimensi, aqidah, syariah, akhlak, tafsir, sirah, dsb.

Adapun rincian jumlah hadis dikaitkan dengan tema-nya adalah : aqidah 251 hadis, ibadah 1277 hadis, hukum halal haram 2519 hadis, takwil mimpi 32 hadis, pengobatan 73 hadis, rasul-rasul 141 hadis, biografi sahabat 1218 hadis, huru-hara dan peperangan 347 hadis, kegoncangan hari kiamat 911 hadis, peperangan nabi dan al-fitan 233 hadis, tafsir 974 hadis dan fadhail al-Qur’an 70 hadis.

Kitab ini pada cetakan terakhir berbentuk 4 jilid besar hasil dari penelitian dan verifikasi beberapa ulama hadis dari lima manuskrip al-Mustadrak-nya al-Hakim. Dalam cetakan yang ada sekarang ini dilengkapi dengan komentar-komentar tambahan dari al-zahabi dan ditahqiq oleh Syaikh Musthafa Abdul Qadir Atha.

Adapun sistematika Kitabnya, mengikuti model dipakai oleh Bukhari maupun Muslim, dengan membahas berbagai aspek materi dan membaginya dalam kitab-kitab (tema-tema tertentu) dan sub-subnya. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut :

Jilid I :

1. Kitab Iman : 287 hadis

2. Kitab Ilmu : 155 hadis

3. Kitab Taharah : 228 hadis

4. Kitab Shalat : 352 hadis

5. Kitab al-Jum’ah : 82 hadis

6. Kitab Shalat Idain : 29 hadis

7. Kitab Shalat Witir : 34 hadis

8. Kitab Shalat Tathawwu’ : 51 hadis

9. Kitab al-Sahwi : 13 hadis

10. Kitab Shalat Istisqa’ : 13 hadis

11. Kitab Shalat Kusuf : 17 hadis

12. Kitab Kauf : 9 hadis

13. Kitab al-Janaiz : 162 hadis

14. Kitab Zakat : 105 hadis

15. Kitab Siyam : 77 hadis

16. Kitab Manasik : 192 hadis

17. Kitab Doa Takbir dan Tahlil : 219 hadis

18. Kitab Fadail al-Qur’an : 110 hadis

Jilid II :

19. Kitab Buyu : 246 hadis

20. Kitab Jihad : 209 hadis

21. Kitab Qism al-Fa’i : 59 hadis

22. Kitab Qital ahl al-Baghy : 28 hadis

23. Kitab Nikah : 120 hadis

24. Kitab Talaq : 49 hadis

25. Kitab ‘Itq : 18 hadis

26. Kitab Makatib : 13 hadis

27. Kitab al-Tafsir : 1.129 hadis

28. Kitab al-Tarikh : 266 hadis

Jilid III :

29. Kitab Hijrah : 40 hadis

30. Kitab al-Magazi : 106 hadis

31. Kitab Ma’rifah al-Sahabah : 2.000 hadis

Jilid IV :

Lanjutan no. 31

32. Kitab Ahkam : 127 hadis

33. Kitab At’imah : 128 hadis

34. Kitab Asyribah : 114 hadis

35. Kitab al-Birr wa al-Shillah : 114 hadis

36. Kitab al-Libas : 69 hadis

37. Kitab al-Tibb : 94 hadis

38. Kitab al-Adahi : 53 hadis

39. Kitab al-Zabaih : 31 hadis

40. Kitab al-Taubah wa Inabah : 78 hadis

41. Kitab al-Adab : 121 hadis

42. Kitab al-Aiman wa al-Nuzur : 37 hadis

43. Kitab al-Riqaq : 104 hadis

44. Kitab al-Faraid : 76 hadis

45. Kitab al-Hudud : 150 hadis

46. Kitab Ta’bir al-Ru’ya : 95 hadis

47. Kitab al-Ruqa wa al-Tamaim : 27 hadis

48. Kitab al-Fitan wa al-Malahim : 383 hadis

49. Kitab Malahim : 128 hadis

50. Kitab al-Ahwal : 128 hadis

5. METODE DAN KRITERIA AL-HAKIM

Al-Hakim memiliki kriteria ataupun prinsip-prinsip tersendiri dalam menentukan status kesahihan suatu hadis. Diantara prinsip yang dipegang al-Hakim adalah : ijtihad, prinsip status sanad dan prinsip status matan :

(a). Ijtihad

Artinya dalam menentukan kesahihan suatu hadis diperlukan ijtihad. Prinsip semacam ini sebenarnya bukan hal yang baru, al-Ramamuharmuzy, al-Baghdad, Ibnu al-asir dan lain-lainnya sudah menerapkan ini sebelumnya.

(b). Prinsip Status Sanad

Dalam menentukan status hadis, al-Hakim menerapkan dua standar, yakni tasyaddud (ketat) terhadap hadis-hadis yang terkait dengan aqidah dan syari’ah (hukum halal dan haram, muamalah, nikah dan riqaq) dan tasahul (longgar) terhadap hadis-hadis yang terkait dengan fadhail a’mal, sejarah, sejarah rasul dan sahabat.

(c). Prinsip Status Matan

Al-Hakim menyatakan : ”Sesungguhnya hadis sahih itu tidak hanya diketahui dengan sesahihan riwayat, tetapi juga dengan pemahaman, hafalan dan banyak mendengar.”

Prinsip meneliti hadis tidak hanya pada aspek sanadnya saja, pada akhirnya melahirkan berbagai konsep rajih-marjuh, nasikh-mansukh, mukhtalif al-hadis, maqlub, mudtarib, mudraj dan ta’arrud al-hadis untuk menentukan dan membedakan hadis yang ma’mul bih dan gair ma’mul bih.

6. KLASIFIKASI HADIS

Berbeda dengan ulama-ulama sebelumnya (pasca Imam Turmuzi), al-Hakim tidak mengklasifikasi hadis menjadi shahih, hasan dan dhaif. Al-Hakim membagi hadis menjadi dua, yakni hadis shahih dan hadis dhaif.

Hadis shahih itu bertingkat-tingkat, ada yang disepakati kesahihannya dan ada pula yang tidak disepakati (hasan). Dengan demikian dalam pandangan al-Hakim. Hadis hasan masuk dalam kategori sahih. Meskipun al-Hakim pernah menyebut garib hasan, namun tidak dijelaskan apa maksud al-Hakim dengan pernyataan itu.

Al-Hakim berbeda dengan para ulama hadis pra Turmuzi yang sama-sama mengklasifikasi kualitas hadis menjadi sahih-dhaif, dan memasukkan kategori hasan pada hadis daif yang masih bisa diamalkan. Fenomena inilah yang nampaknya mendasari penilaian terlalu longgarnya al-Hakim dalam menentukan hadis, karena memasukkan kategori hadis hasan ke dalam hadis sahih.

7. PENILAIAN PARA ULAMA

Tujuan al-Hakim menyusun kitab al-Mustadrak adalah untuk menghimpun hadis-hadis sahih berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim, atau salah seorang daripada mereka, yang tidak ditulis dalam kitab sahih masing-masing. Al-Hakim mensahihkan hadis mengikut beberapa tahap:

1. Hadis yang sahih mengikut syarat al-Bukhari dan Muslim.

2. Hadis yang sahih mengikut syarat salah seorang daripada mereka sama ada syarat al-Bukhari atau mengikut syarat Muslim.

3. Hadis yang sahih tanpa disandarkan kepada al-Bukhari atau Muslim yaitu hadis sahih mengikut syarat al-Hakim sendiri.

4. Hadis yang tidak diberi apa-apa derajat. Kemungkinan al-Hakim bermaksud untuk menilainya setelah siap menyusun kitab al-Mustadrak tetapi dia tidak sempat untuk menunaikan maksudnya.

Kajian yang dilakukan semula oleh tokoh-tokoh hadis selepas al-Hakim mendapati wujud beberapa penyanggahan dalam teknik pensahihan al-Hakim. Mereka dapati hanya sebahagian hadis yang derajatnya menempati pensahihan al-Hakim manakala selainnya tidak.


Ada hadis yang dihukum sahih oleh al-Hakim berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim akan tetapi ada pula yang mendapati ia tidak menempati syarat al-Bukhari dan Muslim. Demikian juga bagi hadis yang beliau sahihkan berdasarkan syarat salah seorang daripada mereka, atau berdasarkan syarat al-Hakim sendiri. Bahkan adakalanya di balik pensahihan tersebut, ada pula yang mendapati hadis tersebut sebenarnya memiliki derajat dha‘if, sangat dha‘if sehingga sampai ke derajat palsu (maudhu’).


Para ahli hadis ini yang mengetahui penyanggahan ini telah terbagi kepada 3 bagian :

Pertama :

Mereka yang mendakwa beliau adalah seorang ahli hadis tetapi pada masa yang sama juga adalah seorang Syi‘ah al-Rafidhah yang jahat. Oleh itu disahihkan hadis-hadis yang tidak sahih bertujuan mencemari asas-asas Ahl al-Sunnah dan pada waktu yang sama membenarkan Mazhab Syi‘ah.

Hal ini dijelaskan oleh al-Zahabi: “Beliau merupakan seorang yang dipercayai tetapi beliau mensahihkan di dalam kitab Mustadraknya itu beberapa hadis yang digugurkan dan begitu banyak boleh dijumpai di dalamnya. Aku tidak mengetahui apa yang dia sembunyikan daripada hal itu atau sememangnya dia tidak mengetahui perkara tersebut (dari kejahilannya sendiri)”.

Sekiranya dia mengetahui kesalahan yang dia lakukan itu dan disengajakan, maka itu merupakan perbuatan khianat dan dia adalah seorang Syiah yang sememangnya masyhur dengan perlakuan sedemikian dalam mengambil hadis yang bercanggah dengan hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim.
Perkataan yang agak ‘keras’ dilafazkan oleh Abu Ismail Abdullah al-Ansari apabila ditanya tentang al-Hakim: “Beliau ialah seorang imam dalam hadis dan juga Rafidhah yang najis.”

Berkata pula Ibn Thahir al-Maqdisi: “Beliau adalah seorang yang begitu fanatik dalam jiwanya terhadap Syiah. Beliau menampakkan dirinya sunnah dengan mendahulukan para khulafa yang awal, tetapi mula bersikap menyeleweng tentang Mu’awiyah dan ahli keluarganya secara terang dan langsung tidak memohon maaf atas kesalahannya”.

Al-Zahabi berkata: “Aku mengambil jalan sederhana dengan menyatakan bahwa beliau bukanlah Rafidhah (pelampau Syiah) tetapi hanya sekadar seorang Syiah”.

Pendapat ini dianggap lemah malah ditolak oleh Ahl al-Sunnah. Ini karena Mazhab Ahl al-Sunnah tidak menghukum seseorang melainkan pada amal zahirnya. Amalan zahir al-Hakim tidak menunjuk atau mengisyaratkan apa-apa tanda bahwa beliau bermazhab Syiah al-Rafidhah. Perkara paling utama yang boleh dikatakan tentang al-Hakim ialah beliau hanya mengutamakan kecintaan kepada para Ahl al-Bait dan ini dikenali sebagai al-Tasyaiyu’ atau al-Mufadhdhilah.

Kedua :

Bagi usaha mengumpulkan 8,803 buah hadis yang sahih menurutnya. al-Hakim telah mengambil jangka masa yang begitu lama sehingga ke penghujung hayatnya. Dalam jangka masa yang lama ini, sebagaimana kebiasaannya bagi orang yang berusia lanjut mereka tidak begitu mantap dalam menghukum derajat sesebuah hadis, bahkan sering keliru.

Kecerdasan fikiran yang semakin lemah dan berkemungkinan telah menyebabkan al-Hakim banyak membuat kekeliruan di dalam periwayatan hadis dalam al-Mustadrak sehingga ke tahap mensahihkan hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang pernah ditolaknya sendiri dalam kitab yang lain.

Oleh karena kekeliruan yang begitu nampak ini dalam kajian ilmu hadis, sebagian ahli hadis menganggap lemah pensahihan hadis al-Hakim sehingga tidak boleh berhujah dengannya melainkan perlu di teliti lebih dulu. Ibn Hajar al-‘Asqalani rahimahullah (852H) menerangkan: (al-Hakim adalah) seorang imam yang sangat benar dan juga seorang yang sangat bahaya, paling utama yang disebutkan tentangnya adalah dia digolongkan di kalangan orang-orang yang dha‘if. Tetapi telah diperkatakan oleh sebahagian ulama tentang keuzurannya kerana dia menulis kitab al-Mustadrak ketika di penghujung umurnya. Malahan sebahagian yang lain menyebutkan bahwa beliau telah mulai tidak kuat mengingat.

Ketiga :

al-Hakim dalam periwayatan hadis agak bermudah-mudahan (tasahul) di dalam mensahihkan sesuatu hadis. Ini sebagaimana terang Ibn al-Shalah rahimahullah (643H): ”Dan dia (al-Hakim) meluaskan syarat penetapan hadis sahih dan mengambil sikap bermudah-mudahan dalam menghukum dengannya.”

Ibn Dihyah di dalam kitabnya al-‘Ilm berkata: “Menjadi kewajiban kepada ulama hadis untuk berwaspada pada setiap perkataan al-Hakim Abu Abdullah karena dia banyak berbuat keliru, menzahirkan hadis-hadis yang tertolak.”

Berkata Abu Sa’id al-Malini: “Aku telah melihat kitab al-Mustadrak yang dikarang oleh al-hakim daripada mula hingga akhir dan kau tidak jumpa sebuah hadis yang terdapat syarat kedua imam tersebut (al-Bukhari dan Muslim).”

Berkata al-Zahabi dalam mengomentari pendapat tersebut: “Ini merupakan pendapat yang terlalu oleh al-Malini, sedangkan masih terdapat sejumlah hadis yang menepati syarat kedua imam tersebut dan sejumlah besar lagi mengikut syarat salah seorang dari keduanya. Adapun kedua syarat tersebut memenuhi setengah kitabnya, seperempat di kalangan hadis yang sah dari aspek sanadnya sekalipun terdapat sedikit kecacatan, dan seperempat lagi yang mengandungi hadis munkar dan lemah yang tidak sah diamalkan serta selebihnya adalah hadis palsu.”

8. Daftar Pustaka

a. Al-Naisaburi, al-Hakim. al-Mustadrak ‘ala al-Sahihain, jilid I. Beirut : dar al Fikr.

b. Mustadrak al-Hakim, sebuah biografi.http://ristu-hasriandi.blogspot.com/2009/04/mustadrak- al-hakim.html

c. Nurun Najwah, Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Studi Kitab Hadis. Teras, Yogyakarta. 2003.

d. Abdurrahman, M. Pergeseran Pemikiran Hadis Ijtihad Hakim dalam Menentukan Status Hadis. Jakarta : Paramadina, 2000.

e. Al-Tahhan, Mahmud. Usul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid, Maktabah Ma’arif, Arab Saudi.



[1] M. Abdurrahman, Pergeseran Pemikiran Hadis Ijtihad Hakim dalam Menentukan Status Hadis (Jakarta : Paramadina, 2000)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar