Kamis, 20 Agustus 2009

Zuhud

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, yang selalu melimpahkan rahmat iman, islam dan kesehatan bagi kita semua, shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, bagi keluarga beliau, sahabat beliau, dan umat beliau yang tetap istiqomah dalam ajaran islam. Amin....

Sehubungan dengan tugas mata kuliah Tasawwuf, kami kelompok IV mendapat materi tentang gerakan zuhud : Hasan al-Bashri, Ibrahim bin Adham dan Sufyan ats-Tsauri. Makalah ini disusun dengan mengacu kepada referensi-referensi yang ada, dengan susunan isi makalah antara lain :

Bab I : Pendahuluan

Bab II : Pengertian Zuhud

Bab III : A. Hasan al-Bashri

B. Ibrahim bin Adham

C. Sufyan ats-Tsauri

Bab IV : Kesimpulan

Demikian pengantar dari kami, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi penyusun dan bagi para pembaca.

Jakarta, November 2006

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

Nabi saw, bersabda :

” Apabila kamu sekalian melihat seseorang yang telah dianugerahi zuhud berkenaan dengan dunia dan ucapan, maka dekatilah ia, karena ia dibimbing oleh hikmah.”

(H.r. Abu Khallad dan di-takhrid oleh Abu Nu’aim dan Baihaqi)

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan, ”Pada umumnya banyak orang berbeda pendapat berkenaan dengan zuhud. Sementara orang ada yang mengatakan, ’Zuhud bersangkutan dengan perkara yang haram saja, sebab perkara yang halal diterima Allah wst. Apabila Allah swt. Memberikan berkat kepada hambat-Nya berupa harta yang halal dan hamba itu bersyukur kepada-Nya atas berkat itu, maka ia meninggalkan menurut upayanya, tanpa harus mengajukan hak izin untuk mengekangnya.”

Sebagian yang lain mengatakan, ’Zuhud terhadap perkara yang haram adalah suatu kewajiban, sementara zuhud terhadap perkara yang halal adalah suatu keutamaan. Apabila hamba yang berzuhud miskin, tetapi sabar terhadap keadaannya, bersyukur serta merasa puas atas segala sesuatu yang telah dianugerahkan Allah swt. Kepadanya, maka hal itu lebih baik ketimbang berusaha menimbun kekayaan berlimpah di dunia.”

Allah swt, telah menghimbau umat manusia untuk bersikap zuhud berkenaan dengan pemerolehan kekayaan, melalui firman-Nya : ” Katakanlah di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa’.” (Q.s. An-Nisa’: 77).

Banyak ayat lain yang dapat dijumpai berkenaan dengan tidak berharganya dunia dan seruan untuk bersikap zuhud terhadapnya.

Sebagian orang yang mengatakan, ”Apabila seorang hamba membelanjakan harta dalam ketaatan kepada Allah swt, bersabar, dan tidak mengajukan keberatan terhadap larangan-larangan syariat untuk dilakukannya dalam menghadapi kesulitan hidup, maka adalah lebih baik baginya bersikap zuhud terhadap harta yang dihalalkan.

Sebagian yang lain berkomentar, ”Seyogyanya bagi seorang hamba memutuskan untuk tidak memilih meninggalkan yang halal dengan bebannya, dan tidak pula berusaha memenuhi keperluan-keperluannya secara berlebihan, karena menyadari atas rezeki yang diberikan oleh Allah swt. Apabila Allah swt, menganugerahkan kepadanya harta yang halal, ia harus bersyukur kepada-Nya. Apabila Allah swt, menentukan dirinya berada pada batas kecukupan hidup, maka hendaklah tidak memaksakan diri mencari kemewahan, karena kesabaran merupakan sesuatu yang paling utama bagi pemilik harta yang halal.

BAB II

PENGERTIAN ZUHUD

Beberapa pengertian zuhud, antara lain :

· Zuhud disinggung secara tidak langsung di dalam firman-Nya : ”(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (Q.s. Al-Hadid: 23).

· Sufyan ats-Tsauri berkata, ”Zuhud terhadap dunia adalah membatasi keinginan untuk memperoleh dunia, bukannya memakan makanan kasar atau mengenakan jubah dari kain kasar.”

· Hasan al-Bashry berkata : ”Zuhud di dunia, hendaknya Anda membenci muatan dan pendukungnya.”

· Abu Utsman berkata : ”Zuhud adalah hendaknya Anda meninggalkan dunia dan kemudian tidak peduli dengan mereka yang mengambilnya.”

· Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq : ”Zuhud adalah hendaknya Anda meninggalkan dunia sebagaimana adanya ia, buka berkata, ’Aku akan membangun pondok Sufi (ribath) atau mendirikan masjid’.”

· Yahya bin Mu’adz : ”Zuhud menyebabkan kedermawanan berkenaan dengan hak milik, dan cinta yang mengantarkan pada semangat kedermawanan.”

· Ibnul Jalla’ berkomentar : ”Zuhud adalah sikap Anda memandang dunia ini hina di mata Anda, maka berpaling darinya akan menjadi mudah bagi diri Anda.”

· Ibnu Khafif berkata : ”Zuhud adalah ketidak-senangan jiwa pada dunia, dan melepaskan urusan hak milik itu.”

· Al-Junayd : ”Zuhud adalah kekosongan hati dari sesuatu yang tangan tidak memilikinya.”

· Abdullah ibnul Mubarak : ”Zuhud adalah tawakkal kepada Allah swt, dipadu dengan kecintaan kepada kefakiran.”

· Abdul Wahid bin Zaid : ”Zuhud adalah menjauhkan diri dari dinar dan dirham.”

· Abu Sulaiman ad-Darany : ”Zuhud adalah menjauhkan diri dari apa pun yang memalingkan Anda dari Allah swt.”

BAB III

HASAN AL-BASHRI, IBRAHIM BIN ADHAM DAN SUFYAN ATS-TSAURI

  1. Hasan Al-Basri

Nama lengkapnya, Abu Sa’id Al-Hasan bin Yasar. Dia lahir di Madinah pada tahun 21 H. (642 M), dan meninggal di Basrah pada tahun 110 H. (728 M.). Ayahnya bernama Zaid bin Tsabit, seorang budak yang kemudian menjadi sekretaris Nabi Muhammad s.a.w. Ibunya adalah hamba dari isteri nabi Muhammad s.a.w., Ummu Salamah.

Dia bergaul dengan jumlah sahabat Rasulullah s.a.w. dan menerima hadist-hadist dari mereka. Dengan demikian Hasan al-Basri tumbuh di lingkungan orang-orang yang shaleh.

Pendidikan Hasan Al-Basri dimulai dari Hijaz. Ia berguru hampir kepada seluruh ulama disana. Bersama ayahnya, ia kemudian pindah ke Basrah, tempat yang membuatnya masyhur dengan nama Hasan Al-Basri. Puncak keilmuannya diperoleh di sana.[1]

Tentang kelebihan dan keutamaan Hasan Al-Basri dalam pengamalan ajaran-ajaran agama, Abu Qatadah sebagaimana yang dikutip oleh Hamka mengatakan : ”Bergurulah kepada syekh ini. Saya sudah menyaksikan sendiri, tidaklah ada seorang tabi’in yang menyerupai sahabat Nabi kecuali beliau ini.”[2]

Kemasyuran Hasan Al-Basri dalam kehidupan kerohanian telah mendapat perhatian di dalam kitab-kitab tasawuf, seperti kita Qut al-Qulub karya Abu Tahlib Al-Makki, Tabaqat al-Kubra karya Al-Sya’rani, Hilyah al-Auliya karya Abu Nu’aim dan lain-lain.

Hasan al-Basri termasyur dikalangan para tabi’in sebagai orang yang zahid. Kezahidannya, kata Taftazani didasarkan kepada rasa takut (kawf) yang mendalam kepada Allah. Berhubungan dengan ini, Al-Sya’rani dalam kitabnya Al-Tabaqat berkata : ”Demikian takutnya sehingga seakan-akan ia merasa bahwa neraka itu hanya dijadikan untuk dia seorang”. Ibn Abi Hadid dalam Nahj al-Balaghah menulis : ”Jika seorang menemui Hasan al-Basri, dia mesti mengira Hasan sedang ditimpa suatu musibah. Hal ini karena rasa sedih dan rasa takutnya”.[3]

Ajaran-ajaran Hasan al-Basri dapat dilihat dari ungkapan-ungkapannya seperti yang dikutip oleh Hamka berikut :

1. ”Perasaan takutmu sehingga bertemu dengan hati tenteram lebih baik daripada perasaan tenterammu yang kemudian menimbulkan takut”.

2. ”Dunia adalah negeri tempat beramal. Barangsiapa yang bertemu dengan dunia dengan rasa benci kepada dan zuhud, akan berbahagialah dia dan beroleh faedah dalam persahabatan itu. Tetapi barangsiapa yang tinggal dalam dunia, lalu hatinya rindu dan perasaan tersangkut kepada akhirnya ia akan sengsara. Dia akan terbawa kepada suatu masa yang tidak dapat dideritanya”.

3. Tafakur membawa kita pada kebaikan dan berusaha mengerjakannya. Menyesal atas perbuatan jahat, membawa kepada meninggalkannya. Barang yang fana’ walaupun bagaimana banyaknya tidaklah dapat menyamai barang yang baqa’ walaupun sedikit. Awasilah dirimu dari negeri yang cepat datang dan cepat pergi dan penuh dengan tipuan”.

4. ”Dunia ini adalah seorang perempuan janda tua yang telah bungkuk dan telah banyak kematian laki”.

5. ”Orang yang beriman berduka cita pagi-pagi dan berduka cita di waktu sore. Karena dia hidup di antara dua ketakutan. Takut mengenang dosa yang telah lampau dan takut memikirkan ajal yang masih tinggal dan tahu bahaya apakah yang sedang mengancam”.

6. ”Patutlah orang insyaf bahwa mati sedang mengancamnya, dan kiamat menagih janjinya, dan dia mesti berdiri di hadapan Allah akan dihitung”.

7. ”Banyak duka cita di dunia memperteguh semangat amal saleh”.[4]

Hamka berkata:

”Dr. Muhammad Mustafa Hilmi ......mengatakan kemungkinan bahwasanya zuhud beliau itu, yang didasarkan kepada takut, ialah karena takut akan siksa Tuhan dalam neraka. Tetapi setelah saya pun turut menyelidikinya pula, saya berpendapat bahwa bukanlah takut akan neraka itu yang menjadi sebab. Yang jadi sebab ialah perasaan dari orang yang berjiwa besar akan kekurangan dan kelalaian diri. Sebagai sabda Nabi: ”Orang yang beriman mengenang dosanya, laksana orang yang duduk di bawah sebuah gunung yang besar; senantiasa merasa takut gunung itu akan menimpa dirinya”.[5]

”Itu sebabnya saya berpendapat bahwasanya dasar zuhud Hasan basri bukanlah karena takut akan masuk neraka, tetapi takut akan itu sendiri. Dalam hal yang seperti ini, orang kadang-kadang merasa biarlah masuk neraka, daripada kena murka. Sebab itu saya berpendapat bahwasanya zuhud beliau ialah kawf dan raja’ ”ketakutan dan pengharapan”. Dan tujuan sejati, yang juga dikuatkan oleh Dr. Mustafa Hilmi, ialah ingin kebebasan dari kejahatan dan mencapai kebaikan”.[6]

  1. Ibrahim bin Adham

Abu Ishaq – Ibrahim bin adham bin Manshur (161 H./778 M) dari daerah Balkh.[7] Ibrahim merupakan salah seorang anak raja. Suatu hari ia keluar untuk berburu. Ia sangat menginginkan memburu kelinci. Lalu ada sebuah bisikan, ”Hai Ibrahim, apakah untuk itu engkau diciptakan? Apakah dengan (perburuan) itu engkau diperintah?” Kemudian bisikan itu muncul kembali,”Tidak untuk itu engkau diciptakan, dan tidak pula untuk tindakan demikian diperintahkan.”

Ibrahim langsung turun dari kendaraannya. Ia menemui pengembala yang bekerja untuk ayahnya. Baju wol pengembala itu diambil dan dipakai. Sementara kuda dan apa yang dimilikinya diberikan kepada pengembala itu. Ia pergi melintasi padang pasir, sampai masuk di Mekkah. Disana ia berguru kepada Sufyan ats-Tsaury dan al-Fudhail bin ’Iyadh. Akhirnya mukim di Syam dan meninggal disana.

Ibrahim makan dari hasil jerih payahnya sendiri, seperti bekerja sebagai pengetam dan pekerjaan lain di kebun-kebun, serta yang lainnya.

Suatu ketika ia pernah di padang pasir berjumpa seseorang yang mengajari Asma Allah Yang Agung. Kemudian ia berdoa dengan Asma Allah tersebut, setelah itu tiba-tiba melihat Khidhr as. Yang berkata kepadanya, ”Orang yang mengajari Asma allah Yang Agung itu adalah saudaraku Daud.” Kami mendapatkan kisah ini dari Abu Abdurrahman as-Sulamy, ”Ibrahim bin Bisyar berkata, ’aku belajar kepada Ibrahim bin Adham, dan aku bertanya kepadanya, ’Kabarkanlah tentang awal mula perjalanan ruhanimu!’ Lalu Ibrahim menyebutkan kisah tersebut’.”

Doa yang sering dibaca adalah, ”Ya Allah, pindahkanlah diriku dari kehinaan maksiat kepada-Mu menuju keagungan taat kepada-Mu!”

Suatu ketika ia pernah berkata kepada seseorang yang sedang thawaf, ”Ketahuilah, Anda tidak akan memperoleh derajat orang-orang saleh, sampai Anda melampaui enam langkah ini:

Pertama, Anda menutup pintu nikmat dan membuka pintu bencana.

Kedua, Anda menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan.

Ketiga, Anda menutup pintu istirahat dan membuka pintu ketekunan.

Keempat, Anda menutup pintu tidur dan membuka pintu jaga.

Kelima, Anda menutup pintu kekayaan dan membuka pintu kefakiran.

Keenam, Anda menutup pintu angan-angan dan membuka pintu persiapan kematian.

Suatu hari Ibrahim sedang menjaga tanaman anggur. Seorang tentara lewat, dan meminta, ”Berikan kami anggur itu!” Ibrahim menjawab, ”Pemiliknya tidak menyuruhku memberikan kepada Anda.” Seketika itu pula tentara tadi memukul Ibrahim dengan cemetinya. Namun demikian Ibrahim justru menyodorkan kepalanya, sembari berkata, ”Pukullah kepala yang selalu maksiat kepada Allah swt. Ini!” Tentara itu pun lunglai dan pergi berlalu begitu saja.

Sahl bin Ibrahim berkata, ”Aku berteman dengan Ibrahim bin Adham, lantas aku sakit. Ia memberikan nafkahnya untuk diriku. Suatu saat aku ingin sekali pada sesuatu, lantas Ibrahim menjual kudanya, dan uanganya diberikan kepadaku. Ketika aku ingin minta penjelasan, ’Hai Ibrahim, mana kudanya?’ ia menjawab, ’Saudaraku, engkau naik diatas leherku.’ Dan benar, sepanjang tiga pos ia mengendongku.”

  1. Sufyan ats-Tsaury

Dia adalah Al-Hafidh adl-Dlabith (penghafal yang cermat) al-Imam al-Hujjah Abu Abdillah Sufyan bin Sa’id bin Masruq al-Kufi. Ayahnya (Sa’id) salah seorang ulama Kufah. Sedangkan ia sendiri terkenal dalam periwayatan Hadis dan kecermatannya, sehingga Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah dan Yahya bin Ma’in menjulukinya Amirul-Mu’minin fi al-Hadits, gelar yang sama dengan yang disandang oleh Imam Malik bin Anas.

Mengenal dia, Al-Khatib al-Baghdadi berkata : ”Sufyan adalah seorang diantara para imam kaum muslim dan salah seorang diantara pemimpin agama. Kepemimpinannya disepakati oleh para ulama, sehingga tidak perlu lagi pengukuhan terhadap ketelitian, hafalan, kearifan dan kezuhudannya”.

Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan hadist dari Al-A’masi (Sulaiman bin Mihran), Abdullah bin Dinar, Ashim al-Ahwal, Ibn al-Munkadir, dan lain-lain.

Sedangkan yang meriwayatkan darinya ialah : Abdurrahman al-Auza’i, Abdurrahman bin Mahdi, Mis’ar bin Kidam dan Abban bin Abdullah al-Ahmasi. Orang terakhir yang meriwayatkan darinya adalah Ali bin al-Ja’d.

Abdullah bin al-Mubarak berkata : ”Aku telah mencatat dari 1.100 orang guru. Aku tidak pernah mencatat dari seseorang yang keutamaannya melebihi Sufyan. ”Seseorang bertanya kepadanya : ”Hai Abu Abdillah! Anda pernah melihat Sa’ad bin Jubair dan lain-lain, dan anda tetap mengatakan demikian?” Jawabnya : ”Itulah apa yang aku katakan. Aku belum pernah melihat orang yang lebih utama daripada dia.

Ibn al-Mubarak berkata : ”Aku pernah menceritakan sebuah Hadis kepada Sufyan. Lalu pada kesempatan lai aku data kepadanya ketika ia tengah men-tadlis-kan (menyembunyikan aib) Hadis tersebut. Ketika ia melihatku, tampak ia malu dan berkata : ”Aku meriwayatkannya bersumber dari anda”.

Jika ini benar, maka kita harus menganggap bahwa pentadlisan yang dilakukan Sufyan itu termasuk tadlis yang tidak membuatnya tercela. Seakan-akan tadlisnya itu dari orang-orang terpercaya saja. Karena itu, ia berkata kepada Ibn al-Mubarak : ”Aku meriwayatkannya bersumber dari Anda.” Dengan perkataan itu, ia menghendaki bahwa sanad Hadis yang sampai kepadanya tersebut dianggap terpercaya (tsiqah). Ats-Tsauri wafat di Basrah pada tahun 161 H.[8]

BAB IV

KESIMPULAN

A. Hasan al-Bashri

Dunia adalah negeri tempat beramal. Barangsiapa yang bertemu dengan dunia dengan rasa benci kepada dan zuhud, akan berbahagialah dia dan beroleh faedah dalam persahabatan itu. Tetapi barangsiapa yang tinggal dalam dunia, lalu hatinya rindu dan perasaan tersangkut kepada akhirnya ia akan sengsara. Dia akan terbawa kepada suatu masa yang tidak dapat dideritanya”.

Dasar zuhud Hasan al-Bashri bukanlah karena takut akan masuk neraka, tetapi takut akan itu sendiri. Dalam hal yang seperti ini, orang kadang-kadang merasa biarlah masuk neraka, daripada kena murka. Zuhud beliau ialah kawf dan raja’ ”ketakutan

B. Ibrahin bin Adham

Doa yang sering dibaca adalah, ”Ya Allah, pindahkanlah diriku dari kehinaan maksiat kepada-Mu menuju keagungan taat kepada-Mu!”

”Ketahuilah, Anda tidak akan memperoleh derajat orang-orang saleh, sampai Anda melampaui enam langkah ini:

Pertama, Anda menutup pintu nikmat dan membuka pintu bencana, kedua, Anda menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan, ketiga, Anda menutup pintu istirahat dan membuka pintu ketekunan, keempat, Anda menutup pintu tidur dan membuka pintu jaga, kelima, Anda menutup pintu kekayaan dan membuka pintu kefakiran, keenam, Anda menutup pintu angan-angan dan membuka pintu persiapan kematian.”

C. Sufyan ats-Tsauri

”Sufyan adalah seorang diantara para imam kaum muslim dan salah seorang diantara pemimpin agama. Kepemimpinannya disepakati oleh para ulama, sehingga tidak perlu lagi pengukuhan terhadap ketelitian, hafalan, kearifan dan kezuhudannya”.

Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah dan Yahya bin Ma’in menjulukinya Amirul-Mu’minin fi al-Hadits, gelar yang sama dengan yang disandang oleh Imam Malik bin Anas.



[1] Umar Farukh, Tarikh al-Firk al-‘Arabi, (Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin, 1983), h. 216.

[2] Hamka, Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), h. 76.

[3] Ibid., h. 77-78

[4] Ibid.

[5] Ibid., h. 78

[6] Ibid.

[7] Balkh adalah daerah di bawah kekuasaan Khurasan, yang kemudian menjadi pusat kebudayaan dan keagamaan pada masa kerajaan Thakharistan. Dibuka oleh Ahmad bin Qais pada tahun 653 M.

[8] Biografi Sufyan Ats-Tsauri dalam Thabaqat Ibn Sa’ad 6/257; Tahdzib at-Tahdzib 4/111-115; Al-Wafayat 1/210.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar